Film dokumenter dari seri "Шедевры Эрмитажа" atau 'Adikarya Ermitazh' menceritakan tentang sejarah karya-karya yang dipamerkan di Museum Ermitazh, Sankt-Peterburg, Rusia. Dalam film ini dijelaskan pula tentang teknik dan karya para master serta beragam gaya seni yang mereka gunakan dari berbagai zaman.

Museum Ermitazh, Sankt-Peterburg, Rusia
Film ini memiliki empat seri, di mana setiap serinya menceritakan periode yang berbeda-beda, yaitu: zaman kebangkitan Italia, zaman kebangkitan Utara, Belanda abad XVII dan zaman Inggris kuno. Melalui film dokumenter yang ditampilkan secara gratis oleh situs culture.ru ini kita dapat menikmati perjalanan virtual di museum terbesar di dunia yang pernah ada.












Sumber Bacaan:
Культура.РФ: Документальные фильмы «Шедевры Эрмитажа»




Pada abad ke-14 kekuasaan Kepangeranan Rus-Moskwa mulai menguat. Adapun pengaruh Zolotaya Orda (Gerombolan Emas) yang saat itu menguasai kebanyakan wilayah Rus mulai melemah. Dalam 20 tahun Zolotaya Orda mengalami pergantian khan hingga 25 kali. Zolotaya Orda akhirnya terpecah menjadi dua bagian, yakni di barat dan di timur.

Di wilayah barat kekuasaan Zolotaya Orda diambil alih oleh Mamay, seorang komandan militer yang licik. Mamay berhasil mengembalikan kekuatan militer Zolotaya Orda. Namun saat itu Rus-Moskwa tidak mau tunduk dengan pemerintahan Orda di bawah kekuasaan Mamay, sehingga ia merasa perlu untuk memberikan hukuman bagi Moskwa. Knyaz (pangeran) Moskwa saat itu, Dmitry Ivanovich, paham betul bahwa pasukan Mongol-Tatar hanya bisa dikalahkan jika seluruh para knyaz di tanah Rus bersatu. Ia mulai mencoba mengumpulkan kekuatan sesegera mungkin. Pertemuan pertama pasukan Rus dan Orda terjadi pertama kali pada tanggal 11 Agustus 1378 di wilayah Ryazan, di tepi sungai Vozhe. Untuk pertama kalinya pasukan Orda dapat dikalahkan oleh pasukan Rus.

Wilayah Kekuasaan Zolotaya Orda
Mamay tidak terima dengan kekalahan tersebut. Dalam waktu singkat, Mamay mengumpulkan kembali pasukan dalam jumlah besar. Menyadari adanya bahaya mengerikan di depan mata, banyak knyaz di yang melupakan pertengkaran mereka sementara waktu dan bersedia untuk memenuhi seruan Moskwa demi melindungi Tanah Rus.

Terkumpulah pasukan Rus dari Suzdal, Rostov, Yaroslav, Kostroma dan dari wilayah Rus lainnya. Berkumpulnya pasukan sebesar itu tidak pernah terjadi sebelumnya di Tanah Rus. Sergy Radonezhsky sebagai tokoh Gereja Ortodoks yang sangat berwibawa kala itu memberkati para pangeran Rus sebelum berangkat ke medan perang. Ia juga merupakan pendiri monastir yang kini dinamakan Monastir Trinitas Santo Sergy Lavra yang terletak di Sergiev Posad, tak jauh dari kota Moskwa. Sergy Radonezhsky memiliki dua orang murid bernama Peresvet dan Oslyabya. Mereka adalah merupakan prajurit tangguh sebelum mereka memutuskan untuk menjadi biarawan. Merasa bahwa knyaz Dmitry memerlukan pengawal tangguh, Sergy Radonezhsky memerintahkan mereka untuk membantu knyaz dalam pertempuran, sehingga mereka harus membatalkan sumpahnya sebagai seorang biarawan (dalam ajaran Kristen Ortodoks, biarawan tidak diperbolehkan membunuh).

Khan Mamay
Knyaz Dmitry membawa pasukannya ke selatan untuk bertemu pasukan Mamay. Pasukan Rus tiba di tepi sungai Don dan pada malam harinya mereka mulai menyeberangi sungai tersebut. Saat fajar, pada 8 September 1380 pasukan Rus bersiaga di padang Kulikovo, padang seluas 10 Km. Sebagaimana kebiasaan pertempuran kala itu, pertempuran dimulai dengan duel satu lawan satu antara prajurit terkuat dari masing-masing pasukan. Dari pihak Orda, maju Chelubey, sedang dari pihak Rus, Peresvet yang mewakili. Mereka saling menusuk satu sama lain dengan tombak dan terbunuh di tempat. Hal ini semakin menambah keyakinan bagi pasukan Rus, bahwa mereka tak kalah kuat dibandingkan dengan pasukan Orda.

Pertarungan yang mengerikan berlangsung hampir sehari penuh. Terjadi momen, ketika pasukan Mongol-Tatar tampak menguasai pertempuran. Namun mereka mendapatkan serangan tiba-tiba dari belakang, sehingga akhirnya pasukan Mongol-Tatar melarikan diri dari pertempuran. Pasukan di bawah pimpinan Mamay pun hancur. Setelah pertempuran tersebut, knyaz Dimitry mendapatkan julukan “Donskoy” karena pertempuran yang dimenangkannya berada di dekat Sungai Don. Namun Tanah Rus baru benar-benar terbebas dari penguasaan Zolotaya Orda yakni 100 tahun setelah pertempuran dengan pasukan Mamay itu, yang dikenal dengan sebutan "Pertempuran Kulikovo".

Pertempuran Kulikovo
Meski telah kalah di Pertempuran Kulikovo, kekuatan Zolotaya Orda tidak bisa dianggap remeh. Penaklukan demi penaklukan wilayah di Tanah Rus masih terus berlangsung. Pada 1382, Khan Tokhtamysh merebut kekuasaan Orda, kemudian berhasil menaklukkan Moskwa, membakar kota dan menghancurkan kekuasaan kepangeranan. Kewajiban membayar pajak pun berlanjut.

Bagaimanapun, setelah Pertempuran Kulikovo, orang-orang Mongol-Tatar mulai mengerti, bahwa kekuasaan mereka di Tanah Rus cepat atau lambat akan berakhir karena Zolotaya Orda terus melemah. Sebaliknya, Kepangeranan Rus-Moskwa semakin menguat dan Moskwa menjadi pusat perlawanan untuk membebaskan rakyat Rus dalam melawan kekuasaan Zolotaya Orda.





Sumber Bacaan:
Третьякова, И.А. 2016. История России с древнейших времён до февраля 1917 года (часть 1).

Sumber Gambar:

Vasily Andreyevich Zhukovsky adalah seorang penyair, penerjemah dan pengajar Rusia abad XIX. Ia merupakan salah satu pendiri gerakan sastra romantisme di Rusia dan dianggap sebagai mentor bagi banyak generasi penulis Rusia.

Ia terlahir sebagai anak tidak sah tuan tanah bernama Afanasy Bunin dari hubungannya dengan seorang wanita Turki, Salhi. Vasily menerima nama keluarga dari seorang bangsawan miskin dari Belarus yang menjadi ayah baptisnya dan kemudian menjadikannya sebagai anak angkatnya. Meski diangkat anak oleh keluarga bangsawan, ia tidak serta merta mendapat gelar bangsawan, karenanya untuk mendapatkan status yang tinggi, ia diberikan pendidikan di sekolah asrama, didaftarkan secara fiktif dalam satuan pasukan hussar, sehingga Vasily mendapat pangkat opsir dan status bangsawan.

Ketika ia belajar di sekolah asrama di bawah Universitas Moskwa, Zhukovsky yang masih berusia 14 tahun telah dipercaya menjadi ketua komunitas sastra muda "Sobraniye". Pada 1802 Vasily Andreyevich berkenalan dengan Karamzin dan mulai menggemari aliran sentimentalisme. Karya-karya pertamanya di antaranya adalah "Вадим Новгородский" (Vadim Novgorodsky, 1803) dan "Сельское кладбище" (Desa Pekuburan, 1802) yang merupakan terjemahan bebas dari elegi karya penyair Inggris, Thomas Gray.

Karya-karya Zhukovsky diterbitkan di majalah "Vestnik Yevropy" (Kabar Eropa), tempatnya pertama bekerja sejak 1805. Pada 1808 ia mulai bekerja sebagai redaktur di majalah tersebut. Di tahun yang sama untuk pertama kalinya ia tertarik mendalami balada "Lenore" karya Gottfried Bürger. Kemudian ia membuat terjemahan bebas berdasarkan balada Jerman tersebut dan muncullah karyanya yang berjudul "Lyudmila". Kemunculan karyanya ini dianggap sebagai kelahiran aliran romantisme Rusia. Selanjutnya Zhukovsky menulis balada berjudul "Svetlana", versi terjemahan yang lebih akurat atas karya Gottfried Bürger yang diterbitkan atas namanya sendiri.

Karya besar lainnya yang ditulis Zhukovsky lahir saat terjadi pendudukan Moskwa oleh pasukan Prancis tahun 1812. Sambil menunggu pertempuran di dekat Tarutino, Zhukovsky menulis "Певца во стане русских воинов..." (Seorang Pendendang di kamp Pasukan Rusia...) yang oleh generasi sezamannya dihapal luar kepala oleh banyak orang.

"Pushkin dan Zhukovsky di Rumah Glinka" karya Viktor Artamonov
Pada 1815, Komunitas Arzamas muncul dalam kehidupan sastra Rusia dan menyatukan para pendukung aliran Karamzin yang baru sekaligus melahirkan aliran oposisi terhadap kelompok masyarakat "retrograd", sebutan bagi para anggota komunitas "Obrolan Para Pencinta Kata Rusia" (Беседа любителей русского слова).

Di antara para anggota komunitas Arzamas, terdapat sejumlah politisi, di antaranya adalah Uvarov, Bludov, serta para anggota Gerakan Desembris (Dekabrist), Orlov dan Turgenev, juga penyair Rusia terkenal, Batyushkov, Vyazemsky, paman serta keponakan Pushkin. Vasily Zhukovsky menjadi sekretaris di komunitas tersebut. Setiap anggota komunitas ini biasa memberikan julukan lucu satu sama lain, tak terkecuali Zhukovsky yang mendapat julukan "Svetlana" yang diambil dari judul balada yang ditulisnya. Zhukovsky sendiri merasa terhormat saat dipanggil dengan sebutan "Svetlana".

Zhukovsky sering mengunjungi Derpt (kini Tartu) sehingga ia tidak bisa selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan komunitasnya. Namun ia tetap aktif terus mengirimkan karya-karyanya ke sana, seperti puisi parodi "Овсяный кисель" (Bubur Gandum) yang para anggota Arzamas dengan suara bulat memuji karyanya sebagai "райским кремом" (krim surga).

Pada 1817, muncul babak baru dalam kehidupan Zhukovsky. Selain menjadi penyair, ia memulai profesinya sebagai guru bahasa Rusia bagi Putri Agung Rusia Aleksandra Fyodorovna yang di kemudian hari menjadi permaisuri Tsar Rusia. Tentunya Zhukovsky menjalani pekerjaannya ini dengan antusias. Ia tidak memisahkan pengajaran bahasa Rusia dari sastra dan kegiatan menulis. Sambil mengajar, Zhukovsky masih terus menulis, bahkan di masa itu ia menghasilkan beberapa balada yang berjudul "Vadim", "Tsar Hutan", "Ksatria Togenburg" dan lain sebagainya.

Zhukovsky mengajar calon Tsar, Aleksandr II
Pada 1825 Vasily Zhukovsky kembali ditunjuk sebagai pengajar. Kali ini untuk calon Tsar, Aleksandr II. Dalam biografi Aleksandr II, disebutkan bahwa pengaruh Zhukovsky begitu besar terutama dalam membentuk pandangan hidup Sang Tsar yang dikenal sebagai "Tsar Pembebas" ini. Zhukovsky yang juga memiliki pengaruh besar di istana berkali-kali menolong beberapa penyair masa itu. Ia pernah membebaskan Taras Shevchenko (penyair Ukraina) dari perbudakan, serta memohon keringanan hukuman bagi Pushkin bahkan meminta keringanan bagi para pemuda yang terlibat dalam pemberontakan Desembris.

Tsar muda akhirnya naik takhta, membuat Zhukovsky pensiun dari pekerjaannya. Tak lama kemudian, ia menikah dengan gadis muda berusia 19 tahun bernama Yelizaveta Reitern. Ia menghabiskan 12 tahun terakhir masa hidupnya di Jerman bersama istri dan anak-anaknya.

Vasily Zhukovsky wafat pada 24 April 1852 di Baden-Baden. Jenazahnya dikirim ke Rusia dan dimakamkan di Sankt-Peterburg.


Sumber Bacaan

Sumber Gambar

Piala Dunia FIFA 2018 akan segera digelar di 11 kota di Rusia pada 14 Juni-15 Juli 2018. Untuk menyambutnya, Institut Pushkin membuat "Kamus Sepak Bola" yang dapat diakses secara daring (online). Kamus ini dibuat untuk membantu para penonton, pendukung dan penggemar sepak bola pada umumnya dalam memahami kosa kata yang berkaitan dengan sepak bola.

Selain menampilkan daftar kata, di bagian "Словарь" kita bisa mendengarkan bagaimana bunyi kata-kata tersebut diucapkan dalam bahasa Rusia, dilengkapi juga dengan gambar dan video untuk mempermudah memami makna kata. Untuk menguji kemampuan kita dalam memahami kosa kata bahasa Rusia tentang sepak bola yang telah dipelajari, kita bisa mengklik bagian "Тест".

Tampilan kamus bahasa Rusia bertema sepak bola yang dibuat oleh Institut Pushkin
Kamus Sepak Bola ini bisa diakses di chm2018.pushkininstitute.ru.


Aleksandr Sergeyevich Pushkin adalah seorang penyair, penulis dan pelopor aliran realisme kesusastraan Rusia abad XIX. Ia dianggap sebagai penulis terbesar Rusia dan peletak dasar bahasa Rusia modern. Kontribusinya yang begitu besar dalam perkembangan puisi dan kesusastraan Rusia membuatnya dijuluki sebagai "Matahari Puisi Rusia".

Penyair temasyhur Rusia ini lahir pada 6 Juni 1799 dari keluarga bangsawan. Meski bukan bangsawan kaya, namun keluarga Pushkin dikenal sebagai pencinta sastra dan memiliki hubungan dekat dengan lingkaran penulis di kota Moskwa. Pada usia 12 tahun, Aleksandr muda dikirim ke lyceum Tsarkoye selo untuk mendapatkan pendidikan terbaik di masa remajanya. Ia bersekolah selama 6 tahun dan menemukan sahabat-sahabat yang berpengaruh dalam kehidupannya hingga akhir masa hidupnya. Di lyceum ini pula Pushkin menulis puisi-puisi pertamanya. Ia kemudian bergabung dengan komunitas sastra "Arzamas". Secara perlahan, nama Pushkin sebagai penyair semakin dikenal.

"Pushkin saat ujian lyceum 8 Januari 1815" karya Ilya Repin
Setelah lulus dari lyceum, di usianya yang ke-18 Pushkin bekerja sebagai sekretaris di Kementerian Luar Negeri Rusia sebagai sekretaris. Tiga tahun kemudian Pushkin diasingkan ke selatan akibat karyanya yang dianggap melawan pemerintah Kekaisaran Rusia. Selama masa pengasingan dari tahun 1820 hingga 1824, Pushkin harus menjalani masa pengabdian militer di Krimea, pegunungan Kaukasus, Chisinau dan Odessa. Musim panas tahun 1824 Pushkin bebas dari tugas dan melanjutkan masa pengasingannya di Mikhaylovskoe di provinsi Pskov selama dua tahun.

"Pushkin di Mikhaylovskoye" karya Pyotr Konchalovskiy
Di tahun-tahun berikutnya Pushkin baru bisa mendapatkan kebebasan penuhnya kembali untuk mendapat izin tinggal di ibukota. Pada tahun 1829 Pushkin mengajukan lamaran pertama kepada Nataliya Goncharova. Sayangnya ia mendapat penolakan. Pushkin kemudian kembali meninggalkan ibukota dan bergabung dengan pasukan Rusia di bawah pimpinan Paskyevich. Ia bergabung di lini terdepan dalam Perang Rusia-Turki di Kaukasus. Pushkin juga sempat tinggal di Tiflis. Pada tahun 1830 Pushkin akhirnya lamaran Pushkin diterima oleh Nataliya Goncharova. Namun akibat adanya karantina kolera, Pushkin mesti tinggal di Boldino untuk sementara waktu. Musim gugur di Boldino menjadi masa paling produktif bagi Pushkin dalam menghasilkan karya-karyanya.

Monumen Aleksandr Pushkin dan Nataliya Goncharova di Jalan Arbat, Moskwa 
Pada Februari 1831, Aleksandr Pushkin menikah dengan Nataliya Goncharova. Pushkin kembali bekerja sebagai pegawai negeri sipil sebagai historiografer dalam penulisan sejarah Tsar Pyotr Yang Agung. Di masa ini, Pushkin semakin banyak mengasah kemampuannya dalam menulis karya-karya prosa. Pada tahun 1833 Pushkin mulai mendalami sejarah Pemberontakan Pugachyov. Ia melakukan perjalanan ke tempat-tempat di mana pernah terjadi pemberontakan tersebut. Musim gugur tahun 1833 Pushkin kembali ke Boldino dan masa itu menjadi musim gugur di Boldino kedua baginya.

Pada 7 Februari 1837 terjadi duel antara Aleksandr Pushkin dan Georges-Charles de Heeckeren d'Anthès akibat konflik yang berkepanjangan. Dalam duel tersebut, Pushkin mengalami luka parah. Tiga hari kemudian ia menghembuskan napas terakhirnya.





Sumber Bacaan

Sumber Gambar:
Pushkin saat ujian di lyceum
Monumen Aleksandr Pushkin dan Nataliya Goncharova (arsip pribadi)