Blog Jiwa Rusia Pelajari bahasanya, kenali budayanya!

Kamis, Juni 28, 2018

Serial Film Dokumenter "Adikarya Ermitazh"

Film dokumenter dari seri "Шедевры Эрмитажа" atau 'Adikarya Ermitazh' menceritakan tentang sejarah karya-karya yang dipamerkan di Museum Ermitazh, Sankt-Peterburg, Rusia. Dalam film ini dijelaskan pula tentang teknik dan karya para master serta beragam gaya seni yang mereka gunakan dari berbagai zaman.

Museum Ermitazh, Sankt-Peterburg, Rusia
 
Film ini memiliki empat seri, di mana setiap serinya menceritakan periode yang berbeda-beda, yaitu: zaman kebangkitan Italia, zaman kebangkitan Utara, Belanda abad XVII dan zaman Inggris kuno. Melalui film dokumenter yang ditampilkan secara gratis oleh situs culture.ru ini kita dapat menikmati perjalanan virtual di museum terbesar di dunia yang pernah ada.












Sumber Bacaan:
Культура.РФ: Документальные фильмы «Шедевры Эрмитажа»

Senin, Juni 11, 2018

Perlawanan Rus-Moskwa terhadap Zolotaya Orda



Pada abad ke-14 kekuasaan Kepangeranan Rus-Moskwa mulai menguat. Adapun pengaruh Zolotaya Orda (Gerombolan Emas) yang saat itu menguasai kebanyakan wilayah Rus mulai melemah. Dalam 20 tahun Zolotaya Orda mengalami pergantian khan hingga 25 kali. Zolotaya Orda akhirnya terpecah menjadi dua bagian, yakni di barat dan di timur.

Di wilayah barat kekuasaan Zolotaya Orda diambil alih oleh Mamay, seorang komandan militer yang licik. Mamay berhasil mengembalikan kekuatan militer Zolotaya Orda. Namun saat itu Rus-Moskwa tidak mau tunduk dengan pemerintahan Orda di bawah kekuasaan Mamay, sehingga ia merasa perlu untuk memberikan hukuman bagi Moskwa. Knyaz (pangeran) Moskwa saat itu, Dmitry Ivanovich, paham betul bahwa pasukan Mongol-Tatar hanya bisa dikalahkan jika seluruh para knyaz di tanah Rus bersatu. Ia mulai mencoba mengumpulkan kekuatan sesegera mungkin. Pertemuan pertama pasukan Rus dan Orda terjadi pertama kali pada tanggal 11 Agustus 1378 di wilayah Ryazan, di tepi sungai Vozhe. Untuk pertama kalinya pasukan Orda dapat dikalahkan oleh pasukan Rus.

Wilayah Kekuasaan Zolotaya Orda
 
Mamay tidak terima dengan kekalahan tersebut. Dalam waktu singkat, Mamay mengumpulkan kembali pasukan dalam jumlah besar. Menyadari adanya bahaya mengerikan di depan mata, banyak knyaz di yang melupakan pertengkaran mereka sementara waktu dan bersedia untuk memenuhi seruan Moskwa demi melindungi Tanah Rus.

Terkumpulah pasukan Rus dari Suzdal, Rostov, Yaroslav, Kostroma dan dari wilayah Rus lainnya. Berkumpulnya pasukan sebesar itu tidak pernah terjadi sebelumnya di Tanah Rus. Sergy Radonezhsky sebagai tokoh Gereja Ortodoks yang sangat berwibawa kala itu memberkati para pangeran Rus sebelum berangkat ke medan perang. Ia juga merupakan pendiri monastir yang kini dinamakan Monastir Trinitas Santo Sergy Lavra yang terletak di Sergiev Posad, tak jauh dari kota Moskwa. Sergy Radonezhsky memiliki dua orang murid bernama Peresvet dan Oslyabya. Mereka adalah merupakan prajurit tangguh sebelum mereka memutuskan untuk menjadi biarawan. Merasa bahwa knyaz Dmitry memerlukan pengawal tangguh, Sergy Radonezhsky memerintahkan mereka untuk membantu knyaz dalam pertempuran, sehingga mereka harus membatalkan sumpahnya sebagai seorang biarawan (dalam ajaran Kristen Ortodoks, biarawan tidak diperbolehkan membunuh).

Khan Mamay
 
Knyaz Dmitry membawa pasukannya ke selatan untuk bertemu pasukan Mamay. Pasukan Rus tiba di tepi sungai Don dan pada malam harinya mereka mulai menyeberangi sungai tersebut. Saat fajar, pada 8 September 1380 pasukan Rus bersiaga di padang Kulikovo, padang seluas 10 Km. Sebagaimana kebiasaan pertempuran kala itu, pertempuran dimulai dengan duel satu lawan satu antara prajurit terkuat dari masing-masing pasukan. Dari pihak Orda, maju Chelubey, sedang dari pihak Rus, Peresvet yang mewakili. Mereka saling menusuk satu sama lain dengan tombak dan terbunuh di tempat. Hal ini semakin menambah keyakinan bagi pasukan Rus, bahwa mereka tak kalah kuat dibandingkan dengan pasukan Orda.

Pertarungan yang mengerikan berlangsung hampir sehari penuh. Terjadi momen, ketika pasukan Mongol-Tatar tampak menguasai pertempuran. Namun mereka mendapatkan serangan tiba-tiba dari belakang, sehingga akhirnya pasukan Mongol-Tatar melarikan diri dari pertempuran. Pasukan di bawah pimpinan Mamay pun hancur. Setelah pertempuran tersebut, knyaz Dimitry mendapatkan julukan “Donskoy” karena pertempuran yang dimenangkannya berada di dekat Sungai Don. Namun Tanah Rus baru benar-benar terbebas dari penguasaan Zolotaya Orda yakni 100 tahun setelah pertempuran dengan pasukan Mamay itu, yang dikenal dengan sebutan "Pertempuran Kulikovo".

Pertempuran Kulikovo
 
Meski telah kalah di Pertempuran Kulikovo, kekuatan Zolotaya Orda tidak bisa dianggap remeh. Penaklukan demi penaklukan wilayah di Tanah Rus masih terus berlangsung. Pada 1382, Khan Tokhtamysh merebut kekuasaan Orda, kemudian berhasil menaklukkan Moskwa, membakar kota dan menghancurkan kekuasaan kepangeranan. Kewajiban membayar pajak pun berlanjut.

Bagaimanapun, setelah Pertempuran Kulikovo, orang-orang Mongol-Tatar mulai mengerti, bahwa kekuasaan mereka di Tanah Rus cepat atau lambat akan berakhir karena Zolotaya Orda terus melemah. Sebaliknya, Kepangeranan Rus-Moskwa semakin menguat dan Moskwa menjadi pusat perlawanan untuk membebaskan rakyat Rus dalam melawan kekuasaan Zolotaya Orda.





Sumber Bacaan:
Третьякова, И.А. 2016. История России с древнейших времён до февраля 1917 года (часть 1).

Sumber Gambar:

Minggu, Juni 10, 2018

Vasily Zhukovsky


Vasily Andreyevich Zhukovsky adalah seorang penyair, penerjemah dan pengajar Rusia abad XIX. Ia merupakan salah satu pendiri gerakan sastra romantisme di Rusia dan dianggap sebagai mentor bagi banyak generasi penulis Rusia.

Ia terlahir sebagai anak tidak sah tuan tanah bernama Afanasy Bunin dari hubungannya dengan seorang wanita Turki, Salhi. Vasily menerima nama keluarga dari seorang bangsawan miskin dari Belarus yang menjadi ayah baptisnya dan kemudian menjadikannya sebagai anak angkatnya. Meski diangkat anak oleh keluarga bangsawan, ia tidak serta merta mendapat gelar bangsawan, karenanya untuk mendapatkan status yang tinggi, ia diberikan pendidikan di sekolah asrama, didaftarkan secara fiktif dalam satuan pasukan hussar, sehingga Vasily mendapat pangkat opsir dan status bangsawan.

Ketika ia belajar di sekolah asrama di bawah Universitas Moskwa, Zhukovsky yang masih berusia 14 tahun telah dipercaya menjadi ketua komunitas sastra muda "Sobraniye". Pada 1802 Vasily Andreyevich berkenalan dengan Karamzin dan mulai menggemari aliran sentimentalisme. Karya-karya pertamanya di antaranya adalah "Вадим Новгородский" (Vadim Novgorodsky, 1803) dan "Сельское кладбище" (Desa Pekuburan, 1802) yang merupakan terjemahan bebas dari elegi karya penyair Inggris, Thomas Gray.

Karya-karya Zhukovsky diterbitkan di majalah "Vestnik Yevropy" (Kabar Eropa), tempatnya pertama bekerja sejak 1805. Pada 1808 ia mulai bekerja sebagai redaktur di majalah tersebut. Di tahun yang sama untuk pertama kalinya ia tertarik mendalami balada "Lenore" karya Gottfried Bürger. Kemudian ia membuat terjemahan bebas berdasarkan balada Jerman tersebut dan muncullah karyanya yang berjudul "Lyudmila". Kemunculan karyanya ini dianggap sebagai kelahiran aliran romantisme Rusia. Selanjutnya Zhukovsky menulis balada berjudul "Svetlana", versi terjemahan yang lebih akurat atas karya Gottfried Bürger yang diterbitkan atas namanya sendiri.

Karya besar lainnya yang ditulis Zhukovsky lahir saat terjadi pendudukan Moskwa oleh pasukan Prancis tahun 1812. Sambil menunggu pertempuran di dekat Tarutino, Zhukovsky menulis "Певца во стане русских воинов..." (Seorang Pendendang di kamp Pasukan Rusia...) yang oleh generasi sezamannya dihapal luar kepala oleh banyak orang.

"Pushkin dan Zhukovsky di Rumah Glinka" karya Viktor Artamonov
 
Pada 1815, Komunitas Arzamas muncul dalam kehidupan sastra Rusia dan menyatukan para pendukung aliran Karamzin yang baru sekaligus melahirkan aliran oposisi terhadap kelompok masyarakat "retrograd", sebutan bagi para anggota komunitas "Obrolan Para Pencinta Kata Rusia" (Беседа любителей русского слова).

Di antara para anggota komunitas Arzamas, terdapat sejumlah politisi, di antaranya adalah Uvarov, Bludov, serta para anggota Gerakan Desembris (Dekabrist), Orlov dan Turgenev, juga penyair Rusia terkenal, Batyushkov, Vyazemsky, paman serta keponakan Pushkin. Vasily Zhukovsky menjadi sekretaris di komunitas tersebut. Setiap anggota komunitas ini biasa memberikan julukan lucu satu sama lain, tak terkecuali Zhukovsky yang mendapat julukan "Svetlana" yang diambil dari judul balada yang ditulisnya. Zhukovsky sendiri merasa terhormat saat dipanggil dengan sebutan "Svetlana".

Zhukovsky sering mengunjungi Derpt (kini Tartu) sehingga ia tidak bisa selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan komunitasnya. Namun ia tetap aktif terus mengirimkan karya-karyanya ke sana, seperti puisi parodi "Овсяный кисель" (Bubur Gandum) yang para anggota Arzamas dengan suara bulat memuji karyanya sebagai "райским кремом" (krim surga).

Pada 1817, muncul babak baru dalam kehidupan Zhukovsky. Selain menjadi penyair, ia memulai profesinya sebagai guru bahasa Rusia bagi Putri Agung Rusia Aleksandra Fyodorovna yang di kemudian hari menjadi permaisuri Tsar Rusia. Tentunya Zhukovsky menjalani pekerjaannya ini dengan antusias. Ia tidak memisahkan pengajaran bahasa Rusia dari sastra dan kegiatan menulis. Sambil mengajar, Zhukovsky masih terus menulis, bahkan di masa itu ia menghasilkan beberapa balada yang berjudul "Vadim", "Tsar Hutan", "Ksatria Togenburg" dan lain sebagainya.

Zhukovsky mengajar calon Tsar, Aleksandr II
 
Pada 1825 Vasily Zhukovsky kembali ditunjuk sebagai pengajar. Kali ini untuk calon Tsar, Aleksandr II. Dalam biografi Aleksandr II, disebutkan bahwa pengaruh Zhukovsky begitu besar terutama dalam membentuk pandangan hidup Sang Tsar yang dikenal sebagai "Tsar Pembebas" ini. Zhukovsky yang juga memiliki pengaruh besar di istana berkali-kali menolong beberapa penyair masa itu. Ia pernah membebaskan Taras Shevchenko (penyair Ukraina) dari perbudakan, serta memohon keringanan hukuman bagi Pushkin bahkan meminta keringanan bagi para pemuda yang terlibat dalam pemberontakan Desembris.

Tsar muda akhirnya naik takhta, membuat Zhukovsky pensiun dari pekerjaannya. Tak lama kemudian, ia menikah dengan gadis muda berusia 19 tahun bernama Yelizaveta Reitern. Ia menghabiskan 12 tahun terakhir masa hidupnya di Jerman bersama istri dan anak-anaknya.

Vasily Zhukovsky wafat pada 24 April 1852 di Baden-Baden. Jenazahnya dikirim ke Rusia dan dimakamkan di Sankt-Peterburg.


Sumber Bacaan

Sumber Gambar

Minggu, Juni 03, 2018

Kamus Bahasa Rusia Bertema Sepak Bola


Piala Dunia FIFA 2018 akan segera digelar di 11 kota di Rusia pada 14 Juni-15 Juli 2018. Untuk menyambutnya, Institut Pushkin membuat "Kamus Sepak Bola" yang dapat diakses secara daring (online). Kamus ini dibuat untuk membantu para penonton, pendukung dan penggemar sepak bola pada umumnya dalam memahami kosa kata yang berkaitan dengan sepak bola.

Selain menampilkan daftar kata, di bagian "Словарь" kita bisa mendengarkan bagaimana bunyi kata-kata tersebut diucapkan dalam bahasa Rusia, dilengkapi juga dengan gambar dan video untuk mempermudah memami makna kata. Untuk menguji kemampuan kita dalam memahami kosa kata bahasa Rusia tentang sepak bola yang telah dipelajari, kita bisa mengklik bagian "Тест".

Tampilan kamus bahasa Rusia bertema sepak bola yang dibuat oleh Institut Pushkin
 
Kamus Sepak Bola ini bisa diakses di chm2018.pushkininstitute.ru.


Jumat, Juni 01, 2018

Aleksandr Pushkin


Aleksandr Sergeyevich Pushkin adalah seorang penyair, penulis dan pelopor aliran realisme kesusastraan Rusia abad XIX. Ia dianggap sebagai penulis terbesar Rusia dan peletak dasar bahasa Rusia modern. Kontribusinya yang begitu besar dalam perkembangan puisi dan kesusastraan Rusia membuatnya dijuluki sebagai "Matahari Puisi Rusia".
 
Penyair termasyhur Rusia ini lahir di Moskwa pada 6 Juni 1799 dari keluarga bangsawan. Meski bukan bangsawan kaya, namun keluarga Pushkin dikenal sebagai pencinta sastra dan memiliki hubungan dekat dengan lingkaran penulis di kota Moskwa. Sejak kecil ia telah terbiasa berbicara bahasa Prancis. Aleksandr Pushkin telah mulai menulis puisi pada usia 6 tahun dan menuliskan puisi-puisi pertamanya dalam bahasa Prancis. Di masa kanak-kanaknya juga Pushkin sering berkunjung ke rumah neneknya, Mariya Alekseyevna Gannibal. Melalui perbincangan dengan neneknya Pushkin menyadari keindahan bahasa Rusia.

Pushkin tumbuh sebagai pemuda yang cerdas dan berbakat. Ia fasih berbicara dalam bahasa Prancis, Rusia, Jerman dan Yunani. Pada usia 11 tahun, Aleksandr muda dikirim Sankt-Peterburg untuk belajar di Lyceum Tsarkoye selo agar mendapatkan pendidikan terbaik selama enam tahun di masa remajanya. Sekolah ini cukup ketat di masanya dan setiap muridnya harus belajar 7 jam setiap hari. Adapun untuk liburan sekolahnya hanya sebulan, yakni pada bulan Juli. Pushkin mengalami kesulitan dalam pelajaran matematika dan tidak menyukai pelajaran seni rupa. Namun di sekolah ia menemukan sahabat-sahabat dekat yang kemudian berpengaruh bagi kehidupannya hingga akhir masa hidupnya. Di lyceum ini juga Pushkin dapat mengasah bakatnya dalam menulis puisi dan mempelajari lebih dalam bahasa-bahasa asing. Ia kemudian bergabung dengan komunitas sastra "Arzamas". Secara perlahan, nama Pushkin sebagai penyair semakin dikenal.


"Pushkin saat ujian lyceum 8 Januari 1815" karya Ilya Repin
 
Setelah lulus dari lyceum, di usianya yang ke-18 Pushkin bekerja sebagai sekretaris di Kementerian Luar Negeri Rusia. Tiga tahun kemudian Pushkin diasingkan ke selatan Rusia akibat karyanya yang dianggap melawan pemerintah Kekaisaran Rusia. Selama masa pengasingan dari tahun 1820 hingga 1824, Pushkin harus menjalani masa pengabdian militer di Krimea, pegunungan Kaukasus, Chisinau dan Odessa. Musim panas tahun 1824 Pushkin bebas dari tugas dan melanjutkan masa pengasingannya di Mikhaylovskoe di provinsi Pskov selama dua tahun.

"Pushkin di Mikhaylovskoye" karya Pyotr Konchalovskiy
 
Di tahun-tahun berikutnya Pushkin baru bisa mendapatkan kebebasan penuhnya kembali untuk mendapat izin tinggal di ibukota. Pada tahun 1829 Pushkin mengajukan lamaran pertama kepada Nataliya Goncharova. Sayangnya ia mendapat penolakan. Pushkin kemudian kembali meninggalkan ibukota dan bergabung dengan pasukan militer Rusia di bawah pimpinan Paskyevich. Ia bergabung di lini terdepan dalam Perang Rusia-Turki di Kaukasus. Pushkin juga sempat tinggal di Tiflis. Pada tahun 1830 Pushkin kembali mengajukan lamaran kepada Nataliya Goncharova yang sangat dicintainya dan akhirnya lamaran Pushkin diterima. Namun akibat adanya wabah kolera, diberlakukan masa karantina sehingga Pushkin mesti tinggal di Boldino untuk sementara waktu. Musim gugur di Boldino menjadi masa paling produktif bagi Pushkin dalam menghasilkan karya-karyanya. Pushkin sangat menyukai musim gugur karena musim tersebut memberikan banyak inspirasi baginya dalam berkarya.

Monumen Aleksandr Pushkin dan Nataliya Goncharova di Jalan Arbat, Moskwa 
 
Pada Februari 1831, Aleksandr Pushkin menikah dengan Nataliya Goncharova. Mereka dikaruniai dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Pushkin kembali bekerja sebagai pegawai negeri sipil, sebagai historiografer untuk penulisan sejarah Tsar Pyotr Yang Agung. Di masa ini, Pushkin semakin banyak mengasah kemampuannya dalam menulis karya-karya prosa. Pada tahun 1833 Pushkin mulai mendalami sejarah Pemberontakan Pugachyov. Ia melakukan perjalanan ke tempat-tempat di mana pernah terjadi pemberontakan tersebut. Musim gugur tahun 1833 Pushkin kembali ke Boldino dan masa itu menjadi musim gugur di Boldino yang kedua baginya.

Pada 8 Februari 1837 terjadi duel antara Aleksandr Pushkin dan Georges-Charles de Heeckeren d'Anthès di pinggiran kota Sankt-Peterburg akibat konflik yang berkepanjangan. Dalam duel tersebut mereka saling menembakkan pistol ke tubuh lawan dan Pushkin mengalami luka parah. Dua hari kemudian ia menghembuskan napas terakhirnya.





Sumber Bacaan

Sumber Gambar:
Pushkin saat ujian di lyceum
Monumen Aleksandr Pushkin dan Nataliya Goncharova (arsip pribadi)

Minggu, Mei 20, 2018

Kebangkitan Rus-Moskwa sebagai Kekuatan Baru di Tanah Rus Abad XIV-XV

Pada paruh kedua abad XIII wilayah Rus terbagi atas pemerintahan kepangeranan yang terpisah-pisah, seperti Pereyaslavsk, Tver, Rostov, Yaroslav, Moskwa, Vladimir dll. Kota Vladimir yang saat itu merupakan kepangeranan agung Rus yang diperintah oleh seorang "veliky knyaz"  atau 'pangeran agung' pemegang yarlik (dokumen pernyataan pemegang kekuasaan) dari khan yang saat itu masih menguasai Tanah Rus. Pangeran terebut mengirim utusannya ke Novgorod, namun tak semudah itu sekalipun bagi veliky knyaz untuk mencampuri urusan dalam negeri kepangeranan lainnya. Hubungan antara kepangeranan di timur laut Rus dengan kepangeranan di selatan Rus saat itu hampir terhenti. Sejak tahun 1259 wilayah selatan Rus sepenuhnya dikuasai oleh Mongol-Tatar. Di kemudian hari wilayah tersebut jatuh ke tangan Polandia dan Lituania.

Pemerintahan Mongol-Tatar di bawah Zolotaya Orda (Gerombolan Emas) di Tanah Rus menyebabkan kemunduran ekonomi, politik dan budaya. Kemunduran di segala bidang ini membuat Kepangeranan Rus tersisih dari pergaulan dengan negara-negara lainnya di Eropa Barat. Namun secara perlahan, bangsa Rus bangkit dari keterpurukan. Pertanian mulai kembali berkembang, begitupun di kota-kota mulai dilakukan pembangunan. Di sekitar kota juga bermunculan pasar-pasar di mana para petani dari desa datang untuk menjual hasil pertaniannya, sedangkan para penduduk kota datang untuk menjual kerajinan tangan dan membeli hasil pertanian yang dibawa dari desa. Hubungan dagang di timur laut Rus mulai membaik, khususnya antara penduduk Novgorod dan Pskov. Timbul keinginan di antara orang-orang untuk bersatu karena terlalu banyaknya batas wilayah, dengan ragam barang dagangan yang dibutuhkan, perbedaan mata uang yang digunakan di tiap daerah, serta perbedaan penggunaan satuan ukur dalam perdagangan dan pertanian. Hal ini terjadi karena setiap penguasa menentukan kebijakan masing-masing yang berbeda satu sama lain. Satu-satunya yang masih menyatukan bangsa Rus saat itu adalah Kristen Ortodoks sebagai kepercayaan mereka bersama.

"Para baskak (utusan khan yang bertugas mengumpulkan upeti)" karya S. Ivanov.
 
Pada 1305, khan memindahkan hak kepangeranan agung dari Vladimir ke Kepangeranan Tver. Sementara itu Tver memiliki saingan kuat, yakni Moskwa. Kepangeranan Rus-Moskwa saat itu dipimpin oleh Daniil Aleksandrovich (1276-1303), anak bungsu dari Aleksandr Nevsky. Ia memperluas wilayah kepangeranan Rus-Moskwa dengan menyatukan Kepangeranan Pereslavl-Zalessky yang dibangun oleh Yury Dolgoruky, disusul oleh kota Kolomna yang terletak di tepi sungai Oka. Tampuk kekuasaannya diteruskan oleh anaknya yang melanjutkan perluasan kekuasaan Moskwa dengan merebut kota Mozhaysk di hulu sungai Moskwa dari kekuasaan Kepangeranan Rus-Smolensk.

Pada 1325 Kepangeranan Rus-Moskwa dipimpin oleh Ivan Kalita, anak dari pangeran Daniil. Julukan "Kalita" yang ada pada namanya memiliki arti 'pundi uang' atau 'dompet', karena ia dikenal sebagai pangeran yang suka mengumpulkan uang pajak untuk dirinya sendiri. Ia sering menghadap langsung pemimpin Zolotaya Orda sambil membawakan hadiah untuk khan dan istrinya. Karena hubungannya yang baik dengan para khan, utusan Mongol-Tatar tak lagi datang ke Moskwa untuk mengambil upeti selama 40 tahun! Ivan Kalita juga membantu khan untuk menekan pemberontakan penduduk Tver melawan Zolotaya Orda, sehingga ia mendapat jalan pintas mendapatkan yarlik dari khan untuk memerintah Kepangeranan Rus-Vladimir. Selain itu ia juga mendapat hak untuk mengumpulkan upeti bagi Zolotaya Orda dari seluruh Tanah Rus. Dengan demikian, Ivan Kalita menjadi pangeran Moskwa pertama yang menduduki jabatan sebagai Veliky knyaz.

"Kremlin Moskwa di masa pemerintahan Ivan Kalita" karya A. Vasnetsov
 
Di bawah kepemimpinan Ivan Kalita, wilayah Moskwa menjadi tujuh kali lebih luas dari sebelumnya. Ia memerintah sepanjang tahun 1325 hingga 1340. Mitropolit Pyotr yang saat itu menjabat sebagai Kepala Gereja Ortodoks Rus awalnya tinggal di Vladimir. Namun Ivan Kalita mengundangnya untuk pindah ke Moskwa. Setelah setuju untuk pindah, Moskwa pun menjadi pusat Gereja Ortodoks di Tanah Rus. Ivan Kalita membangun benteng pertahanan dari kayu di sekeliling wilayah Kremlin saat ini. Ia juga yang pertama mendirikan bangunan dari batu di Moskwa, yaitu Katedral Uspensky dan Katedral Arkhangelsky.

Masa penyatuan timur laut Rus ke wilayah Kepangeranan Rus-Moskwa selama 1300-1462
 
Meski demikian, kejayaan Kepangeranan Moskwa baru diraih oleh pangeran-pangeran Moskwa setelahnya. Moskwa tak hanya menjadi kota yang besar, tapi juga pusat keagamaan di timur laut Rus. Di wilayah ini bangsa Rus dapat mengembangkan kebudayaan, ajaran Ortodoks serta bahasa Rusia. Kesadaran akan kesamaan bahasa, kesamaan gaya hidup, budaya dan agama telah menyatukan masyarakat Rus di berbagai tempat sehingga menyadarkan mereka sebagai bangsa yang besar.

Adapun penduduk di wilayah barat dan barat daya Rus diduduki Polandia-Lituania. Mereka tidak kehilangan identitasnya, meski tentunya mendapat banyak pengaruh dari bangsa lain yang menguasainya. Keadaan yang terpisah dengan masyarakat Rus lainnya menyebabkan mereka tetap mempertahankan dialek, cara hidup dan budaya dari era Rus-Kiev. Di masa ini mulai muncul perbedaan kebiasaan, tradisi, seni dan budaya dari masyarakat Rus lainnya. Sejak saat itu, masyarakat Rus terpisah sebagai tiga suku-bangsa yang berbeda, yakni Velikorus (Rusia besar) atau Rusia, Malayarus (Rus kecil) atau Ukraina dan Belarus (Rus putih). Tentunya proses ini membutuhkan waktu yang lama dan berlangsung selama beratus-ratus tahun lamanya.





Sumber Bacaan:
Третьякова, И.А. 2016. История России с древнейших времён до февраля 1917 года (часть 1).

Sumber Gambar:

Sabtu, Mei 19, 2018

Perlawanan Bangsa Rus terhadap Serangan dari Barat Abad XIII

Abad XIII merupakan masa-masa yang sulit bagi bangsa Rus. Bahaya tak hanya datang dari timur dari bangsa nomaden, tapi juga dari barat. Bangsa Rus harus menghadapi penyerang baru dari barat yang ingin merebut kota Novgorod yang kaya. Serangan pertama berasal dari para ksatria salib (dalam bahasa Rusia disebut "рыцари-крестоносцы") dari Jerman dan Swedia. Mereka memiliki kemampuan berkuda yang baik dan menggunakan baju zirah sebagai pelindung dalam pertempuran. Julukan "ksatria salib" melekat pada mereka karena terdapat lambang salib di baju zirahnya.

Pertempuran di tepi sungai Neva antara pasukan Rus melawan ksatria Salib Swedia
 
Pada tahun 1240 Birger, pemimpin ksatria salib Swedia, melakukan ekspansi amiliter ke muara sungai Neva. Kedatangan mereka disambut dengan perlawanan pasukan Rus yang dipimpin knyaz (pangeran) Aleksandr Yaroslav dari kota Novgorod. Knyaz muda yang masih berusia sembilan belas tahun ini bersama para druzhina (orang yang dekat dengan knyaz dan bertugas menjaga keamanan kota) membawa pasukannya ke sungai Neva. Pada 15 Juli pertempuran sengit berlangsung sejak fajar hingga hari kembali gelap. Aleksandr sempat bertarung langsung melawan Birger dan berhasil melukainya. Pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Rus. Kekalahan tersebut membuat pasukan Swedia gagal merebut Tanah Rus karena tertahan di sungai Neva dan danau Ladoga. Atas kemenangan pada pertempuran di tepi sungai Neva tersebut, knyaz Aleksandr mendapat julukan "Nevsky".

Aleksandr Nevsky yang Agung
 
Kekalahan ksatria salib Swedia tak menghentikan ksatria salib Jerman untuk mencoba menguasai Tanah Rus. Di abad ke-13 ksatria salib Jerman berhasil menguasai wilayah Baltik yang saat itu masih disebut Livonia. Para ksatria salib di Livonia kemudian membentuk Ordo Livonia. Selanjutnya para ksatria salib Jerman menaklukkan suku Prusia dan di wilayah taklukannya tersebut dibentuklah Ordo Teutonik. Penaklukan demi penaklukan terus dilakukan para ksatria salib dan masyarakat yang menjadi taklukannya diharuskan menjadi penganut Katolik. Tanah-tanah mereka diambil dan di atasnya dibangun kastil-kastil. Sementara di timur saat Batu Khan berusaha untuk menguasai Tanah Rus, Paus di Roma memberikan perintah kepada Ordo Teutonik untuk bersatu dengan Ordo Livonia menguasai wilayah timur. Dengan kekuatan yang semakin besar tersebut ksatria salib Jerman mulai bergerak ke arah Rus.

Ksatria Livonia
 
Pada 5 April 1242 pecah pertempuran di atas danau Chudsky antara pasukan Rus di bawah komando Aleksandr Nevsky dengan para ksatria salib Jerman. Dalam pertempuran ini pasukan Rus berhasil menang dengan telak. Banyak ksatria Jerman yang tewas dan tertangkap sebagai tawanan, sebagian lagi tenggelam dalam es di danau tersebut karena baju zirah tentara salib yang terlalu berat. Sisanya kabur dari pertempuran setelah sebelumnya dikejar oleh pasukan berkuda tentara Rus. Pertempuran ini disebut juga sebagai "Pertempuran Es" karena Aleksandr Nevsky memanfaatkan es yang ada di atas danau Chudsky untuk memenangkan pertempuran.

Sekali lagi bangsa Rus berhasil melindungi tanah airnya dari serangan yang datang dari barat laut. Setelah pertempuran tersebut, kekuatan Ordo Livonia menjadi tak sekuat sebelumnya. Kemenangan pasukan Rus atas ksatria salib begitu penting, karena mereka tak hanya melindungi tanah airnya. Lebih dari itu, mereka berusaha melindungi kepercayaan bangsa Rus, yakni Kristen Ortodoks. Karenanya Aleksandr Nevsky dianggap sebagai salah satu pahlawan besar dalam sejarah nasional bangsa Rusia.





Sumber Bacaan:
Третьякова, И.А. 2016. История России с древнейших времён до февраля 1917 года (часть 1).


Sumber Gambar:
Pertempuran di sungai Neva


Kamis, Mei 17, 2018

Invasi Mongol-Tatar di Tanah Rus

Di akhir abad XII muncul kekuatan baru di Asia Tengah yang berasal dari kaum nomaden. Mereka dikenal sebagai bangsa Mongol, namun masyarakat Rus kuno menyebut mereka sebagai orang Tatar. Di bawah pimpinan khan (pemimpin) Temujin, bangsa-bangsa nomaden ini disatukan hingga menjadi tentara yang tangguh dan kuat. Temujin di kemudian hari dikenal dengan nama "Jenghis Khan".

Pasukan Mongol-Tatar mulai melakukan penaklukan terhadap bangsa-bangsa di sekitarnya, mulai dari wilayah utara Tiongkok, hingga ke arah barat Asia. Kampanye militer pasukan Mongol-Tatar ini akhirnya sampai ke tepi Laut Hitam, di mana saat itu hidup bangsa Kipchak (dalam bahasa Rusia disebut "половцы"), yakni salah satu suku bangsa Turkik nomaden. Mereka meminta bantuan kepada pangeran-pangeran Rus. Akhirnya didapatkan kesepakatan untuk bertempur bersama melawan pasukan Jenghis Khan. Pada tahun 1223 terjadi pertempuran antara bangsa Rus melawan pasukan Mongol-Tatar di tepi sungai Kalka, sebuah sungai yang tidak terlalu besar di dekat laut Azov. Para pangeran Rus bertempur dengan berani, namun karena hubungan antarmereka yang tidak terlalu akrab menyulitkan bekerja untuk saling sama. Akhirnya pasukan-pasukan mereka dengan mudah dihancurkan oleh pasukan Mongol-Tatar. Pertempuran tersebut menjadi pertempuran pertama yang mempertemukan bangsa Mongol-Tatar dengan bangsa Rus. Setelah pertempuran ini, pasukan Jenghis Khan tidak melanjutkan kampanye militernya ke arah Kepangeranan Rus, melainkan berbalik arah dan kembali ke Asia.

Lukisan karya P. Ryzhenko tentang kekalahan pasukan Rus dalam pertempuran Kalka.
 
Pada tahun 1237, cucu Jenghis Khan yang bernama Batu Khan bersama sejumlah pasukan yang besar kembali ke perbatasan Rus. Wilayah Rus pertama yang ada di hadapan mereka adalah Kepangeranan Ryazan. Selama lima hari Ryazan melakukan perlawanan, hingga akhirnya di hari keenam pasukan Mongol-Tatar berhasil menduduki Ryazan. Setelah Ryazan, secara berturut-turut pasukan Mongol-Tatar menguasai Moskwa, Tver dan Vladimir. Mereka tak hanya menghancurkan kota yang enggan menyerah, namun juga membantai banyak penduduknya.

Pasukan Mongol-Tatar begitu mudah menguasai wilayah Rus satu demi satu karena pangeran Rus enggan untuk saling berdamai dan bekerjasama dalam melawan musuh. Setiap pangeran hanya memikirkan kepentingan pribadinya dan tidak tertarik untuk membantu wilayah tetangganya yang menghadapi serangan pasukan Mongol-Tatar. Selain itu, pasukan Mongol-Tatar juga memang sangat kuat dan memiliki pengalaman bertempur lebih banyak.

Pada 1240 pasukan Batu Khan berhasil memasuki Kiev. Mereka nyaris menguasai hampir seluruh Tanah Rus, kecuali Novgorod dan Pskov. Pada musim semi tahun 1241, pasukan yang dipimpin Batu Khan mulai melakukan kampanye militer ke arah Eropa, dimulai dari Polandia, kemudian ke arah Ceko dan Hongaria. Namun serangan mereka tidak begitu lama karena Batu Khan langsung menarik kembali pasukannya dari Eropa.

Ilustrasi diorama di museum Vladimir tentang
serangan pasukan Batu Khan di kota Vladimir 
 
Selama tahun 1240-an Batu Khan mendirikan pemerintahan baru meliputi wilayah kekuasaannya yang luas. Pemerintahan bentukannya ini dalam bahasa Rusia disebut "Zolotaya Orda" atau 'Gerombolan Emas' dengan pusat pemerintahan di Saray, tak jauh dari kota Astrakhan saat ini. Meski wilayah Rus tidak dimasukkan ke dalam Zolotaya Orda, namun mereka secara penuh berada di bawah kendali khan. Pangeran-pangeran Rus wajib mengikuti perintah khan dan membayar upeti dengan jumlah yang besar kepada khan. Awalnya upeti yang dipungut berupa makanan dan benda-benda kerajinan, namun kemudian hanya uang. Di masa ini, banyak orang Rus yang ditangkap dan dijadikan budak. Industri kerajinan banyak mengalami kemunduran. Pangeran-pangeran Rus pun kehilangan kekuasaannya dan harus mendapat izin dari khan untuk bisa memimpin. Seorang pangeran harus memiliki "yarlik" atau surat kuasa dari khan. Khan pula lah yang menentukan siapa yang berhak menjadi "veliky knyaz" (Pangeran agung) di antara pangeran-pangeran Rus. Meski sempat goyah sesaat, namun kekuasaan Zolotaya Orda terus berlangsung hingga dua ratus tahun di Tanah Rus.





Sumber Bacaan :
Третьякова, И.А. 2016. История России с древнейших времён до февраля 1917 года (часть 1).

Sumber Gambar:

Rabu, Mei 16, 2018

Perpecahan Politik di Kepangeranan Rus Abad XII

Pada abad XII Kepangeranan Rus-Kiev mulai terbagi atas beberapa pemerintahan yang berdiri mandiri. Hal ini terjadi karena adanya tradisi dari pangeran-pangeran sebelumnya yang membagi-bagi daerah kekuasaannya untuk diwariskan pada para anaknya. Anak-anak keturunan para pangeran ini seringkali tak bisa mencapai kesepakatan untuk menentukan siapa di antara mereka yang paling berhak untuk menjadi pemimpin atas yang lainnya. Mereka bersaing dan tak mau saling membantu. Di masa-masa yang rumit tersebut, seorang pangeran Rus bernama Vladimir Monomakh (1113-1125), cucu dari Yaroslav Mudry, akhirnya berhasil memulihkan keadaan dan menyatukan kembali Kepangeranan Rus. Sayangnya keadaan ini tak berlangsung lama.

"Vladimir Monomakh sedang beristirahat setelah berburu" karya Viktor Vasnetsov
 
Kekuasaan para pangeran di luar Kiev kembali semakin menguat secara bertahap. Mereka memiliki tanah kekuasaan dan pasukannya sendiri. Mereka lagi mau membayar pajak kepada "velikiy knyaz" atau pangeran agung di Kiev, sementara itu ekonomi di menjadi wilayah menjadi melemah, meski kegiatan pertanian tetap berjalan. Alhasil, di pertengahan abad XII masyarakat di Tanah Rus terbagi atas beberapa kelompok berdasarkan tanah kekuasaan pangeran yang berbeda, di antaranya adalah Kepangeranan Kiev, Chernigovsk, Smolensk, Novgorod, Vladimir-Suzdal dan lain sebagainya.

Anak bungsu dari Vladimir Monomakh, yakni Yury Dolgoruky (1125-1157) mendapatkan warisan tanah di timur laut Tanah Rus (di wilayah Rostov-Suzdal), jauh dari ibukota Kiev. Namun Yury berhasil memperluas batas kekuasaannya secara bertahap. Waktu demi tahu, garis batas wilayah kekuasaannya terus bergerak dengan tujuan akhir - Kiev! Pada tahun 1155 ia akhirnya berhasil menduduki Kiev. Ia juga membangun kota-kota baru di tanah Rus, seperti Dmitrov, Kostroma, Pereslavl-Zalessky, dll. Karenanya, orang-orang memberikan julukan "Dolgoruky" yang berarti 'tangan panjang' (karena tanah kekuasaannya yang terus meluas). Nama Yury Dolgoruky juga memiliki hubungan dengan sejarah keberadaan kota Moskwa, di mana dalam letopis (babad, atau catatan sejarah pertahun) yang ditulis berkaitan dengannya, nama kota Moskwa disebutkan untuk pertama kalinya. Kota Moskwa akhirnya menjadi bagian dari wilayah kekuasaannya dan di bukit Borovitsky dibangun benteng atas perintahnya.

Perangko Rusia seri Yury Dolgoruky
 
Setelah kematian Yury Dolgoruky, tanah Rostov-Suzdal dipimpin oleh Andrey Bogolubsky (1157-1174). Ia adalah seorang pangeran yang cerdas dan tegas, namun keras terhadap lawan-lawannya. Andrey berjuang untuk memperkuat kekuasaannya dan melawan pengaruh para boyar, yakni kelompok orang yang memiliki posisi tertinggi di masyarakat feodal Rus karena kepemilikan tanah yang luas. Andrey memutuskan untuk tidak memerintah dari kota Kiev. Ia memerintah dari kota Vladimir dan menjadikan kota tersebut sebagai ibukota Kepangeranan Rus. Ia mulai membangun kota Vladimir secara bertahap, memerintahkan pembangunan Katedral Uspensky, Gerbang Emas (Pintu masuk kota Vladimir dengan kubah emas) serta dinding pertahanan dari kayu sepanjang 7 kilometer.

Setelah kematian Andrey Bogolyubsky, adiknya, Vsevolod menjadi veliky knyaz (pangeran agung). Ia mendapat julukan "Bol'shoye Gnyezdo", yang berarti 'Sarang Besar'. Seperti juga kakaknya, Vsevolod juga berjuang untuk menyatukan wilayah-wilayah di Tanah Rus di bawah kekuasaannya. Di bawah pemerintahannya, daerah utara Rus meluas hingga Kiev dan Novgorod. Periode kekuasaannya menjadi puncak kejayaan Kepangeranan Rus yang berpusat Vladimir-Suzdal. Namun setelah kematiannya pada tahun 1212 Kepangeranan Rus kembali mengalami kehancuran.

Sementara itu, jauh di timur laut Rus mulai berkembang sebuah pemerintahan di Veliky Novgorod yang pertama kali didirikan sejak abad IX di tepi sungai Volkhov. Umumnya wilayah Novgorod merupakan daerah yang dingin dan tidak subur, sehingga kerajinan dan kegiatan perdagangan lebih banyak berkembang dari pada pertanian. Hasil kerajinan dari Novgorod sangat terkenal di seluruh penjuru Rus. Lad'ya (perahu kayu) dari Novgorod sering terlihat di laut-laut utara hingga jauh ke timur. Para saudagar Novgorod melakukan perdagangan di banyak wilayah, mulai dari Eropa Barat, Uni Ganza (persatuan dagang di kota-kota di Jerman), Bizantium hingga ke arah timur ke benua Asia.

Kota Novgorod terkenal dengan penduduknya yang terpelajar. Kebanyakan dari mereka melek huruf. Hal ini dapat dibuktikan dari ditemukannya surat-surat para penduduk yang ditulis di atas kulit kayu pohon berk. Para peneliti menemukan ratusan dokumen bersejarah yang ditulis para penduduk Novgorod. Tak hanya kaum lelaki, tapi juga kaum wanitanya, bahkan anak-anak Novgorod di masa itu bisa membaca dan menulis. Hasil penelitian juga membuktikan, bahwa tak hanya penduduk yang kaya yang bisa menulis, bahkan penduduk biasa pun sudah terbiasa dengan budaya tulis-menulis.

Catatan peninggalan penduduk Novgorod kuno yang ditulis di atas kulit pohon berk
 
Pada tahun 1136 muncul pemberontakan terhadap knyaz (pangeran) di Novgorod. Masyarakat mengusir knyaz dan membuat perjanjian bahwa siapapun yang menjadi knyaz, maka kebijakannya harus disesuaikan dengan keinginan masyarakat Novgorod. Jika knyaz melanggar perjanjian, maka ia akan diusir dari Novgorod. Selain itu, mereka juga mengimbangi kekuasaan pangeran dengan mengangkat "posadnik", yakni seorang yang dipercaya sebagai tetua di kota tersebut. Posadnik biasanya dipilih dari kalangan boyar setempat.

Dalam menyelesaikan masalah-masalah utama, warga dari kalangan pria dewasa akan berkumpul di lapangan utama di pusat kota. Perkumpulan tersebut disebut "narodnoye veche" atau 'sidang rakyat'. Untuk mengumpulkan masyarakat, digunakanlah "vechevoy kolokol" atau 'lonceng veche' yang kemudian menjadi simbol kekuatan rakyat di Novgorod. Dalam sidang ini, hal-hal penting, mulai dari keputusan untuk berperang atau berdamai, memilih pejabat tinggi, dll.

Bisa dibilang, sistem yang mirip dengan demokrasi modern ini membuat pemerintahan Novgorod di awal abad XII ini seakan menjadi semacam pemerintahan republik pertama yang ada di Rusia, karena sistem yang berlaku di Novgorod sangat berbeda dengan sistem pemerintahan yang digunakan di berbagai wilayah lainnya di Tanah Rus di masa itu.





Sumber Bacaan :
Третьякова, И.А. 2016. История России с древнейших времён до февраля 1917 года (часть 1).

Sumber gambar
Lukisan tentang Vladimir Monomakh karya Viktor Vasnetsov
Perangko Rusia seri Yury Dolgoruky
Catatan peninggalan penduduk Novgorod kuno yang ditulis di atas kulit pohon berk