Perayaan Natal dan Tahun Baru ala Rusia


Natal di Bulan Januari
Kristen Ortodoks adalah agama yang paling banyak pemeluknya di Rusia. Sebagaimana pemeluk agama Kristen lainnya, pemeluk Kristen Ortodoks juga merayakan Hari Natal. Namun uniknya mereka merayakan Natal tidak pada 25 Desember, melainkan pada 7 Januari. Perbedaan perhitungan tanggal ini berkaitan dengan penggunaan kalender baru oleh Paus Gregori di Gereja Katolik pada tahun 1582 yang dikenal dengan sebutan kalender Gregorian (kalender yang kita gunakan juga di Indonesia). Adapun pada kalangan agamawan di Gereja Ortodoks Rusia tetap menggunakan kalender lama yang dikenal dengan sebutan kalender Julian, yang dalam perhitungannya lebih lambat 13 hari dari pada kalender Gregorian. Meskipun saat ini kalender Gregorian digunakan pula di Rusia sebagai kalender resmi negara, namun untuk acara-acara keagamaan, kalangan Kristen Ortodoks Rusia masih menggunakan perhitungan kalender Julian.

Tradisi perayaan Natal dimulai setelah banyak dari bangsa Rus yang memeluk agama Kristen Ortodoks pada era Vladimir I Yang Agung. Sedangkan perayaan Tahun Baru mulai dikenal di Rusia sejak abad 18 pada masa pemerintahan Peter I Yang Agung yang mengadakan westernisasi dengan mengenalkan kalender Gregorian dan menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari libur dan perayaan Tahun Baru.

Berbeda dengan perayaan Natal di negara-negara lainnya di dunia, di Rusia perayaan Natal tidak begitu meriah dibandingkan dengan hari Paskah atau Tahun Baru. Dalam tradisi Kristen Ortodoks, popularitas perayaan Natal berada pada posisi kedua setelah Paskah. Penganut Kristen Ortodoks umumnya merayakan Hari Natal dengan makan malam bersama, menghadiri upacara keagamaan di gereja dan mengunjungi kerabat, teman dan orang-orang terdekat. Dalam tradisi Kristen Ortodoks, mereka berpuasa makan daging 40 hari sebelum hari Natal. Mereka berhenti puasa setelah nampak bintang pertama di langit pada malam Natal tanggal 6 Januari sebagai simbol kelahiran Yesus. Di malam itu, penganut Kristen Ortodoks berkumpul ke gereja dan melaksanakan doa bersama. Pada malam Natal, beberapa orang melaksanakan tradisi "Svyatki" yang berasal dari Slavia Kuno, dimana para gadis menggunakan cermin dan lilin untuk melihat citra atau bayangan wajah suaminya kelak di masa depan. Tradisi Svyatki ini sudah hampir hilang seiring dengan perkembangan zaman.

Setelah Revolusi Rusia tahun 1917, kaum Bolshevik melarang perayaan Natal. Banyak tradisi yang awalnya dilakukan untuk merayakan Natal, khususnya yang berkaitan dengan acara keagamaan mulai dilarang. Baru pada tahun 1935, Iosif Stalin memutuskan untuk memperbolehkan untuk melakukan beberapa tradisi Natal seperti merias pohon pinus dan saling berbagi hadiah, hanya saja pada saat itu sudah tidak lagi berkaitan dengan Natal karena waktu pelaksanaannya dimasukkan ke dalam rangkaian perayaan Tahun Baru.

Perayaan Tahun Baru di Lapangan Merah, Moskwa

Dua Tahun Baru
Di Rusia dirayakan dua kali perayaan Tahun Baru. Tahun Baru yang berdasarkan kalender Julian atau kalender lama dirayakan pada tanggal 14 Januari. Namun tidak semua orang merayakannya karena kalender ini berkaitan dengan tradisi Kristen Ortodoks.

Tahun baru yang berdasarkan kalender Gregorian atau kalender baru dirayakan pada pergantian malam hari antara tanggal 31 Desember dan 1 Januari. Orang-orang merayakan pergantian tahun ini dengan mengadakan konser musik dan menyalakan kembang api di pusat kota. Lokasi terbesar dan paling populer perayaan Tahun Baru di Rusia berpusat di Lapang Merah, Moskwa. Orang Rusia pada umumnya merayakan Tahun Baru bersama keluarga atau teman-temannya, makan bersama dan keluar rumah setelah lewat tengah malam untuk berpesta dan memeriahkan malam itu. Di saluran TV, akan diputar pidato Presiden Rusia yang mengucapkan selamat Tahun Baru 11 kali karena wilayah Rusia memiliki 11 zona waktu.

Ded Moroz dan Snegurochka
Ded Moroz dan Gadis Salju
Bangsa Rusia juga mengenal sosok semacam "Sinterklas" yang disebut "Ded Moroz" atau 'Kakek Salju'. Sosok Ded Moroz juga memiliki peran yang sama dengan Sinterklas, yakni memberi hadiah pada anak-anak. Namun Ded Moroz tidak datang pada hari Natal, melainkan untuk Tahun Baru. Perbedaan Ded Moroz dengan sosok Sinterklas dari budaya Barat adalah postur tubuh dan warna pakaiannya. Ded Moroz pada awalnya digambarkan sebagai kakek jangkung yang menggunakan pakaian berwarna biru. Namun untuk saat ini sosoknya lebih sering disamakan dengan Sinterklas ala Barat sebagai kakek tambun yang berpakaian merah. Ia juga tidak mengendarai rusa, melainkan kereta salju yang ditarik oleh tiga ekor kuda. Selain itu, dalam tradisi Rusia, Ded Moroz tidak bekerja sendiri ketika membagikan hadiah. Ia dibantu oleh cucunya yang bernama "Snegurochka" atau "Gadis Salju". Kedua sosok ini juga menjadi simbol yang sering dikaitkan dengan perayaan Tahun baru di Rusia.

Pada tengah malam tanggal 31 Desember, Menara Jam Spasskaya di Kremlin akan mulai berdentang. Semua orang yang berkumpul di Lapang Merah mulai menghitung mundur. Puncak perayaan Tahun Baru pun dimulai setelah 12 kali dentangan. Orang-orang akan saling mengucapkan "S Novym Godom!" yang berarti "Selamat Tahun Baru!", berpesta dan berlibur sampai 10 Januari.





Bahan Bacaan

0 Komentar:

Posting Komentar